Mendekati akhir bulan Januari ini, tepatnya pada tanggal 25 dan 26 Januari 2018, Kementrian Perhubungan Udara mengadakan forum diskusi antara air traffic controller dan pilot seluruh Indonesia. Acara ini diadakan untuk mengoptimalkan pelayanan navigasi penerbangan Indonesia, dan terlebih lagi untuk menjaga hubungan harmonis antara para pilot dan rekan-rekan air traffic controller di seluruh Indonesia.

Forum diskusi dibuka oleh Kasubdit Operasi Navigasi Penerbangan Dirjen Perhubungan Udara Hasan Basori dan dimulai oleh Capt. Ridwan Zainuddin, selaku nara sumber dan perwakilan Helicopter Committee IPI (Ikatan Pilot Indonesia). Acara juga dihadiri oleh perwakilan General Aviation Comittee IPI, FO Ariza Pandu dan FO Redfa Titihalawa, perwakilan SAR dan TNI-AU, serta beberapa operator penerbangan. Hal-hal yang menjadi bahan diskusi antara lain, penggunaan ruang udara untuk pengoperasian helikopter, struktur ruang udara VFR/IFR untuk pressurized dan unpressurized aircraft, serta pembahasan ADS-B (Automatic Dependent Surveillance-Broadcast) di wilayah udara Indonesia.

Capt. Ridwan Zainuddin mewakili IPI dalam kesempatan ini menyampaikan saran-saran dan masukan bagi para pilot dan air traffic controller untuk selalu mengacu pada regulasi yang sudah ditetapkan dalam melakukan kegiatan/operasi penerbangan, serta penjelasan singkat tentang penggunaan ruang udara untuk pengoperasian helikopter. Rotary-wing maupun fixed-wing harus mendapatkan perlakuan yang sama, meski memiliki peraturan dan jenis operasi yang sedikit berbeda. Regulasi khusus untuk operasi penerbangan di wilayah-wilayah udara yang tidak memiliki fasilitas memadai perlu dibuat dan diterapkan, khususnya di area-area terpencil yang memiliki traffic dengan kapasitas tinggi. Melihat perkembangan dan kapasitas traffic di Indonesia yang terus meningkat tiap tahunnya, beliau kembali mengingatkan pentingnya terminology komunkasi yang jelas antara pilot dan air traffic controller agar aktivitas penerbangan dapat selalu berjalan lancar dan juga meminimalisir resiko yang dapat terjadi.

Forum diskusi dilanjutkan pada hari kedua dengan diskusi exemption ADS-B oleh Subdit Teknik Navigasi Penerbangan-Ditnavpen. Sejauh ini sudah terpasang 30 stasiun ADS-B di seluruh wilayah Indonesia. Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2018, pemerintah dan AirNav telah menetapkan bahwa setiap pesawat yang terbang pada ketinggian FL290 dan ke atas dalam wilayah FIR Jakarta dan Ujung Pandang harus sudah dilengkapi perangkat ADS-B. Edaran penerapan ADS-B sudah dikeluarkan sejak September 2008. Namun hingga saat ini masih cukup banyak pesawat terbang di Indonesia yang belum dilengkapi perangkat ADS-B. Untuk itu, pemerintah mengeluarkan eksempsi khusus untuk pesawat terbang yang belum dilengkapi perangkat ADS-B, dan harus mengacu kepada PM 67 Tahun 2017 Tentang Pengecualian Dari Kewajiban Pemenuhan Standar Keselamatan Penerbangan Sipil.

Sebagai bagian dari rencana pengembangan navigasi penerbangan Indonesia, ditargetkan pada tahun 2020 seluruh wilayah penerbangan serta semua pesawat terbang di Indonesia sudah dilengkapi sistem ADS-B. Penerapan sistem navigasi ini akan mempermudah pengaturan separasi traffic serta meningkatkan keselamatan penerbangan bagi semua pihak.

[rev_slider alias=”forum-diskusi-atc-pilot-indonesia”][/rev_slider]